Tyson Fury Akhiri Dukungan untuk MU dan Timnas Inggris: Dari Fanatik Sepak Bola ke Pecinta Pacuan Kuda
Inews Batulicin- Tyson Fury, petinju kelas berat legendaris yang dikenal dengan julukan “Gypsy King”, kembali menjadi sorotan publik. Bukan karena aksinya di atas ring tinju, melainkan karena keputusan mengejutkan yang ia ambil terkait dunia sepak bola.
Fury secara terbuka menyatakan bahwa dirinya tidak lagi mendukung Manchester United (MU) maupun Timnas Inggris. Pernyataan tersebut ia lontarkan saat berbicara dengan RacingTV di Cartmel Racecourse, sebuah momen yang langsung menghebohkan penggemarnya, terutama pecinta sepak bola.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5325970/original/059384700_1756056711-000_72CF2LG.jpg)
Baca Juga : Amerika Serikat Minta Bantuan Rusia Tangkap Bin Laden
Dari Fanatik Sepak Bola ke Kekecewaan Berat
Meski dikenal sebagai sosok yang keras di ring, Fury sejatinya adalah penggemar berat sepak bola. Ia bahkan rela menempuh perjalanan jauh demi mendukung tim kesayangannya. Saat Euro 2016 di Prancis, Fury menolak mengambil penerbangan singkat dan justru memilih berkendara 18 jam sejauh 1.300 mil dari Morecambe ke Nice demi bisa menyaksikan langsung laga Inggris.
“Kami berkendara 18 jam dari Morecambe untuk sampai ke sini. Semua itu demi menunjukkan dukungan kami untuk para pemain,” kenangnya dalam wawancara dengan BBC saat itu.
Kecintaannya pada Manchester United juga tidak kalah dalam. Fury kerap terlihat di Old Trafford, bersorak di tribun bersama ribuan suporter lain. Namun, di balik dukungan itu, ia juga tidak segan melontarkan kritik pedas ketika Setan Merah tampil mengecewakan.
Kritik Pedas ke MU dan Timnas Inggris
Momen yang paling diingat adalah ketika MU dipermalukan Brighton 0-4 di Amex Stadium pada 2022. Fury langsung melampiaskan kemarahannya lewat Instagram:
“Lupakan Gypsy King yang pensiun, apa kata kalian kalau MU saja yang pensiun?” tulisnya, menyindir keras performa tim.
Meski sempat hadir kembali di Old Trafford dan terlihat duduk bersama Sir Alex Ferguson saat MU menang dramatis 4-3 atas Liverpool di FA Cup 2024, ternyata rasa kecewa Fury sudah terlanjur menumpuk.
Bahkan untuk Timnas Inggris, Fury mengaku sudah kehilangan semangat sejak kekalahan mengejutkan melawan Islandia di Euro 2016. “Sejak saat itu, saya dan sepak bola benar-benar selesai,” tegasnya.
MU dan Era Ruben Amorim Jadi Puncak Kekecewaan
Selain kekecewaan pada Timnas Inggris, Fury juga mengaku tak lagi kuat melihat kemerosotan performa MU, terutama di bawah pelatih baru Ruben Amorim.
Amorim yang berusia 40 tahun tercatat hanya berhasil mengumpulkan 28 poin dari 29 pertandingan Premier League. Statistik buruk ini membuat Fury merasa tidak ada lagi yang bisa ia banggakan dari klub yang dulu ia idolakan.
“Saya bukan lagi pendukung sepak bola sungguhan. Dulu saya mendukung MU, tapi sekarang saya tidak lagi mendukung tim sepak bola mana pun,” ungkapnya blak-blakan.
Beralih Fokus ke Pacuan Kuda
Meski sudah “putus cinta” dengan sepak bola, Fury tidak benar-benar kehilangan gairah dalam dunia olahraga. Kini, ia menemukan hiburan baru yang membuatnya bersemangat: pacuan kuda.
“Sekarang saya lebih tertarik pada pacuan kuda. Ayo kita nikmati itu!” katanya sambil tersenyum, menegaskan minat barunya.
Keputusan ini menandai perubahan besar dalam hidup sang juara dunia kelas berat dua kali yang kini sudah resmi pensiun dari ring tinju. Dari seorang fanatik sepak bola yang rela menempuh perjalanan ribuan kilometer, kini Fury lebih memilih atmosfer berbeda di arena pacuan kuda.
Dari Ring, Tribun, hingga Arena Kuda
Tyson Fury dikenal sebagai sosok penuh kejutan. Baik saat menjadi juara dunia tinju, menyuarakan pendapatnya di media sosial, hingga kini membuat keputusan meninggalkan sepak bola, ia selalu berhasil menarik perhatian publik.
Satu hal yang jelas, Fury tetap menjadi sosok yang apa adanya: blak-blakan, tanpa basa-basi, dan selalu berani mengambil sikap meski tidak populer.
Kini, kisah perjalanannya berlanjut. Bukan lagi di tribun Old Trafford atau stadion Timnas Inggris, melainkan di lintasan pacuan kuda—tempat di mana Gypsy King menemukan gairah baru yang membuat hidupnya tetap penuh warna.
















